Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label TRIAD KRR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRIAD KRR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

72,4 Persen Remaja Punya Orangtua Merokok


Alasan pertama kali remaja merokok yang paling dominan adalah karena coba-coba, diikuti oleh pengaruh iklan TV, ingin kelihatan gagah, dan dipaksa teman. Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, orang tua menjadi panutan dalam memberikan contoh bagi anak-anaknya, data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2009, menunjukan 72,4 persen remaja usia 13-15 tahun mempunyai orang tua merokok.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya bagi tubuh dimana 43 diantaranya bersifat karsinogenik. Komponen utama nikotin (penyebab kecanduan), Tar (bersifat karsinogenik), CO (menurunkan kandungan oksigen dalam darah).
“Ketika seseorang telah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman (dopamine), sehingga menyebabkan rasa ketergantungan. Untuk mempertahankan rasa nyaman, timbul dorongan untuk merokok kembali, inilah awal dari proses kecanduan,” kata Tjandra di Jakarta, Minggu (17/11/13).
Indonesia adalah negara ke-3 tertinggi di dunia dalam jumlah perokok sesudah Cina dan India (WHO, 2008). Konsumsi produk tembakau di Indonesia yang tinggi dan terus meningkat di berbagai kalangan masyarakat mengancam kesehatan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. 
Data GATS 2011 menunjukkan prevalensi merokok orang dewasa Indonesia sebesar 34,8% terbagi atas 67,4% laki-laki, dan 4,5% perempuan (GATS, 2011). Sementara di kalangan remaja 15-19 tahun sebesar 38,4% laki-laki dan 0,9% perempuan (RISKESDAS, 2010). Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2009, menunjukkan 20,3% anak sekolah 13-15 tahun merokok. Perokok pemula usia 10-14 tahun naik 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir dari 9,5% pada tahun 2001 menjadi 17,5% pada tahun 2010 (SKRT, 2001; RISKESDAS, 2010).
           
Merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, khususnya kanker paru, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, dan gangguan pembuluh darah, disamping  menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, gangguan pertumbuhan janin (fisik dan IQ), kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.
Selain berdampak buruk bagi kesehatan perokok itu sendiri, asap rokok orang lain (AROL) juga berbahaya bagi kesehatan orang di sekitarnya, yang dalam hal ini menjadi perokok pasif. AROL adalah gabungan antara asap yang dikeluarkan oleh ujung rokok yang membara dan produk tembakau lainnya serta asap yang dihisap oleh perokok. Tidak ada batas aman untuk AROL
Cara menghindarkan agar remaja tak merokok, antara lain menghindari berkumpul dengan teman-teman yang sedang merokok. Remaja harus yakin bahwa rokok bukan satu-satunya sarana pergaulan. Jangan malu mengatakan bahwa diri kita bukan perokok. Perbanyak mencari informasi tentang bahaya rokok. Hindari sesuatu yang terkait tentang rokok (sponsor, iklan, poster, rokok gratis). “Selain itu, lakukan hal-hal positif: olah raga, membaca, atau hobi lain yang menyehatkan,” ujarnya.

Nah teman-teman semuanya jangan sampai ya kita merokok, mau dibawa kemana negara ini kalau kita semua merokok, selain merusak diri kita sendiri, rokok juga berakibat dengan lingkungan. Jangan merokok ya, HINDARI ROKOK!
"JAKARTA, bkkbn online"​

Sabtu, 14 September 2013

Tips Menghindari Narkoba Bagi Remaja

Remaja selalu saja mempunyai rasa ingin tau yg sangat tinggi. terutama pada hal" yg belum pernah mereka coba. mereka akan merasa tertantang dan mencoba hal baru itu meskipun mereka sebenarnya tahu dampak negativenya. contohnya adalah narkoba.
dalam kehidupan , sekarang tak asing lagi kita mendengar bahwa banyak remaja" meninggal dunia akibat narkoba atau obat"an terlarang.
bukan hanya memakai narkoba saja, namun remaja" sudah banyak yg menjadi pengedar obat"an terlarang.
beberapa faktor remaja mengkonsumsi narkoba diantaranya adalah karena pergaulan / pengaruh teman, faktor lingkungan, faktor keluarga yg kurang mendukung. Namun, beberapa faktor ini bisa saja kita hindari, sehingga kita dapat terhindar dr narkoba yg bisa menghancurkan masa depan kita.
berikut ini adalah tips tips menghindari narkoba :
1. Jangan pernah mencobanya, walaupun untuk iseng atau untuk alasan lain, kecuali perintah dokter/alasan medis. 
2. Kuatkan iman, mantapkan pribadi, pakailah rasio (pemikiran, pertimbangan) lebih banyak dari pada emosi.
3. Jangan menghindar dari problem, tetapi hadapi dan atasi persoalan sampai tuntas, bila tak mampu konsultasi pada ahli.
4. Pilihlah pergaulan yang aman jangan yang berbahaya.
5. Pilih kegiatan yang sehat, tak merugikan diri sendiri ataupun orang lain, ikutilah klub olah raga, organisasi sosial. Lakukan hobi bersama teman dan keluarga.
6. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres bersama nonton bersama keluarga.
7. Selalu berusaha menjadi pribadi yang baik, bertindak positif, bertanggungjawab, jadilah figure/sosok yang diteladani.
8. Berusahalah "saling mendengar", saling mengingatkan dan saling memaafkan agar semakin mendewasakan pribadi masing-masing.
9. Buatlah keluarga, rumah tangga, menjadi tempat yang paling menyenangkan, paling menenangkan sehingga membuat "betah" tinggal bersama "sahabat".
10. Selalu ingatkan, bahwa ancaman hukuman untuk penyalah guna Narkoba, apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan.
11. Ingatkan bahwa Narkoba akan merusak kerja otak, susunan syaraf pusat, merusak ginjal, lever dan sebagainya.
Nah, bagaimana sobat sekalian.
sudah pada mengerti semunya kan ?
Nah, mari bulatkan tekad kita semuanya untuk menjauhi barang terlarang tersebut.
Oke.
 
Ayo Peduli Remaja , Hindarkan Remaja Indonesia dari Penyalahgunaan Narkoba !

Sabtu, 27 April 2013

Ciri-ciri Remaja Berpotensi Penyalahgunaan Napza

1. Malas
2. Mogok
3. Melamun
4. Merokok
5. Minder
6. Mental Terganggu

Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza


1. Faktor Individu
-Ingin coba-coba
-Ingin masuk kedalam kelompok tertentu
-Ingin menunjukkan kebebasan/kedewasaan/ikut mode
-Ingin memperoleh kenikmatan dan efek obat
-Ingin menghilangkan rasa sakit/ketidaknyamanan yang dirasakan dan percaya bahwa obat dapat mengatasi semua permasalahan
-Ingin mencapai ketenangan maksimal
-Ingin protes terhadap suatu sistem yang berlaku
-Ingin mendapat perhatian Ortu

2. Faktor Lingkungan
-Tinggal dilingkungan pemakai Napza
-Bersekolah di daerah rawan Napza
-Bergaul dengan para pengedar dan pemakai
-Kurangnya kontrol sosial masyarakat
-Meningkatnya mobilitas dan komunikasi sosial remaja
-Peranan keluarga yang kurang harmonis
-Peranan kelompok sebaya


Selasa, 23 April 2013

Awas AIDS

AIDS sangat meresahkan karena :
- AIDS adalah penyakit menular yang cepatmenyebar (pandemis) keseluruh dunia
- Belum ada obat yang menyembuhkan penyakitnya
- Belum ada vaksin yang mampu mencegah timbulnya penyakit
- Sangat ganas angka kematian sangat tinggi. Umumnya penderita meninggal sebelum lima tahun setelah timbulnya gejala pertama
- AIDS menyerang semua lapisan masyarakat
- Penularan utama melalui hubungan seksual
- Seorang yang tertular HIV, potensial menular seumur hidup walaupun tampak sehatt
- Informasi mengenai AIDS kurang dipahami.
Penyebab penyakit AIDS ini baru diketahui pada tahun 1983. Dan dapat berada pada semua cairan tubuh manusia (selain pada darah, air mani dan cairan vagina, virus juga ditemukan di dalam ludah dan air mata) namun untungnya virus ini dikenal sebagai virus lamban berkembang biak, tidak seperti influenza. Oleh karena itu penularan AIDS tidak mudah, dalam arti perlu beberapa kali terinfeksi dan dalam jumlah relatif banyak. Penularan melalui persentuhan atau aliran udara dan pernafasan  belum terbukti bisa terjadi. Virus hanya akan menginfeksi tubuh melalui 2 jalan utama  yaitu infeksi langsung ke aliran darah seperti kasus penggunaan alat suntik/ alat kedokteran yang tak steril,  atau transfusi darah dan infeksi melalui hubungan kelamin.
Kasus terinfeksi melalui hubungan kelamin terjadi peningkatan kuat  jika hubungan kelamin dilakukan tidak normal dan tidak bernorma, seperti halnya dengan hubungan kelamin sesama homoseks (pertama kali ditemukannya penyakit AIDS) , perzinaan atau pelacuran. Oleh sebab itu penjalaran penyakit AIDS umumnya terletak pada masalah lingkungan sosial, khususnya lingkungan yang terkait dengan penyimpangan perilaku seksual, penggunaan obat bius yang sering menggunakan alat suntik tidak steril.

Jumat, 15 Maret 2013

Narkoba No , Prestasi Yes

Narkoba bukan lagi istilah asing karena istilah yang merupakan kependekan dari narkotika dan obat – obat terlarang ini sangat sering kita dengar. Tidak hanya itu, kita juga sudah tahu bahwa narkoba membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan pribadi dan sosial si pemakai dan orang di sekitarnya.
Ironisnya narkoba sangat lekat dengan remaja (meskipun tidak sedikit dari pemakai merupakan orang – orang yang sudah berumur bahkan anak – anak) yang notabene generasi penerus bangsa. Bagaimana masa depan bangsa ini jika remajanya saja sudah teler-teler karena kecanduan narkoba. Untuk itu sudah saatnya remaja Indonesia bangkit dari kertepurukan karena penghambaan mereka kepada narkoba.
Sudah sejak lama, kita mendengar dan melihat bagaimana pemerintah dan beberapa masyarakat yang peduli berusaha untuk mengatasi dan menanggulangi masalah narkoba ini. Sampai – sampai dibentuk badan khusus yaitu BNN ( Badan Narkotika Nasional) untuk menangani masalah yang berkaitan dengan narkotika dan obat – obat terlarang, meskipun dari segi penamaan badan tersebut masih kurang tepat karena seolah-olah badan tersebut justru mendukung beredarnya narkotika di tanah air. Mungkin bisa diganti dengan Badan Anti-Narkotika Nasional atau Badan Penanggulangan Narkotika Nasional.
Selain itu, kita juga sering mendengar kata : “Katakan TIDAK pada Narkoba” yang sering didengungkan oleh duta anti-narkoba. Sebetulnya saya kurang setuju dengan istilah tersebut, karena ada beberapa duta anti-narkoba yang sering mendengungkan kata tersebut, tapi justru menjadi pemakai. Karena memang hanya “Katakan TIDAK” tanpa dibarengi dengan tindakan. Mudah saja bagi seseorang untuk berkata TIDAK, namun tanpa dibarengi niatan kuat untuk menjauhinya jadinya UUJ (Ujung-ujungnya jatuh juga). Untuk itu, mulai saat ini kita harus bisa mengubahnya dengan tidak hanya berkata namun juga dibarengi dengan tindakan karena ‘ Pake’ Narkoba bukan Pilihan Hidup

Selasa, 26 Februari 2013

Katakan tidak pada NARKOBA !

1) Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak susunan syaraf yang bisa merubah sebuah kepribadian seseorang menjadi semakin buruk
2) Narkoba adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang bisa merusak norma dan ketentraman umum.
3) Menimbulkan dampak negative yang mempengaruhi pada tubuh baik secara fisik maupun psikologis

Bahaya Narkoba Bagi Pelajar

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja. Kalau dirata- ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 sampai 24 tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahaya narkoba sewaktu- waktu dapat mengincar anak didik kita kapan saja.

Minggu, 24 Februari 2013

Faktor Penyebab HIV/AIDS

1. Berganti-ganti pasangan seksual.
2. Berhubungan seksual dengan ODHA.
3. Memakai NAPZA suntik bersama-sama.
4. Berganti-ganti dengan alat medis yang terkontaminasi HIV.
5. Berhubungan seksual dengan penderita IMS.

Tunda Usia Perkawinan Itu !!!

Menunda usia perkawinan atau tidak menikah di usia dini merupakan salah satu bentuk upaya preventif untuk melahirkan anak sehat.   Saat ini, meskipun belum ada data pasti, banyak kasus bayi lahir prematur dan lahir dengan berat badan rendah dari ibu berusia muda.

"Sekarang ini angka kelahiran dari ibu berusia 15-19 tahun meningkat. Dan banyak yang lahir prematur atau dengan berat badan rendah. Risiko lainnya anak lahir cacat. Ini tentu tidak kita inginkan,"

Menurut Menkes, hal itu dapat dicegah. Untuk menyelamatkan ibu dan anak, disarankan agar menghindari 4 Terlalu yaitu terlalu muda melahirkan, terlalu tua melahirkan, terlalu sering melahirkan, dan terlalu rapat jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua. Untuk itu perlu mengikuti keluarga berencana.

Bagi ibu hamil diminta untuk memanfaatkan program jampersal. Minimal periksa kehamilan sebanyak 4 kali. "Setelah melahirkan pasanglah kontrasepsi, untuk mengatur jarak kelahiran,"(ras)

Penundaan Usia Perkawinan (PUP)

Apa itu PUP?
PUP adalah akronim dari Pendewasaan Usia Perkawinan. PUP adalah upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan sekedar menunda sampai usia tertentu saja tapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa. Bahkan harus diusahakan apabila seseoranggagal mendewasakan usia perkawinannya, maka penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan. Dalam istilah KIE disebut sebagai anjuran untuk mengubah bulan madu menjadi tahun madu. Pendewasaan usia perkawinan merupakan bagian dari program Keluarga Berencana Nasional. Program PUP memberikan dampak pada peningkatan umur kawin pertama yang pada gilirannya akan menurunkan Total Fertility Rate (TFR).
Pendewasaan usia perkawinan ternyata merupakan suatu kerangka yang tersusun oleh tiga masa reproduksi. Tiga masa reproduksi tersebut yaitu….
1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan
Kelahiran anak yang baik, adalah apabila dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia 20 tahun. Kelahiran anak, oleh seorang ibu dibawah usia 20 tahun akan dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak yang bersangkutan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan apabila seorang perempuan belum berusia 20 tahun untuk menunda perkawinannya. Apabila sudah terlanjur menjadi pasangan suami istri yang masih dibawah usia 20 tahun, maka dianjurkan untuk menunda kehamilan, dengan menggunakan alat kontrasepsi yang tepat.
2. Masa Menjarangkan kehamilan
Masa menjarangkan kehamilan terjadi pada periode PUS berada pada umur 20-35 tahun. Secara empirik diketahui bahwa PUS sebaiknya melahirkan pada periode umur 20-35 tahun, sehingga resiko-resiko medik yang diuraikan diatas tidak terjadi. Dalam periode 15 tahun (usia 20-35 tahun) dianjurkan untuk memiliki 2 anak. Sehingga jarak ideal antara dua kelahiran bagi PUS kelompok ini adalah sekitar 7-8 tahun. Patokannya adalah jangan terjadi dua balita dalam periode 5 tahun. Untuk menjarangkan kehamilan dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Pemakaian alat kontrasepsi pada tahap ini dilaksanakan untuk menjarangkan kelahiran agar ibu dapat menyusui anaknya dengan cukup banyak dan lama.
3. Masa Mencegah Kehamilan
Masa pencegahan kehamilan berada pada periode PUS berumur 35 tahun keatas. Sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 35 tahun banyak mengalami resiko medik. Pencegahan kehamilan adalah proses yang dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi. Kontrasepsi yang akan dipakai diharapkan berlangsung sampai umur reproduksi dari PUS yang bersangkutan yaitu sekitar 20 tahun dimana PUS sudah berumur 50 tahun.
Mengapa perlu menunda usia perkawinan?
Program pendewasaan usia perkawinan memberikan pengertian dan kesadaran kepada kalian para remaja agar dalam merencanakan keluarga, kalian dapat mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
Nah, perlu kamu ketahui beberapa alasan mengapa kamu perlu menunda usia kawin pertama dan kehamilan pertamamu khususnya yang berkaitan dengan kesiapan fisik serta beberapa risiko yang dapat kamu alami apabila dilihat dari sudut pandang medis, seperti :
  1. Kondisi rahim dan panggul belum berkembang optimal sehingga dapat mengakibatkan risiko kesakitan dan kematian pada saat persalinan, nifas serta bayi kamu.
  2. Kemungkinan timbulnya risiko medik seperti keguguran, preeklamsia (tekanan darah tinggi, cedema, proteinuria), eklamsia (keracunan kehamilan), timbulnya kesulitan persalinan, lahir sebelum waktunya, Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR), Fistula Vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina), Fistula Retrovaginal (keluarnya gas dan feses/tinja ke vagina).
Oleh karena itu mulai sekarang perlu kamu pertimbangkan  untuk meningkatkan usia kawinmu jadi lebih dewasa lagi. Sehingga kamu bisa mempersiapkan dan menyongsong masa depanmu dengan lebih terencana dan lebih baik.

Sabtu, 23 Februari 2013

Serba-Serbi HIV/AIDS

AIDS adalah keadaaan yang berkembang pada diri orang yang terinfeksi virus yang disebut HIV. HIV menyerang dan menghancurkan system kekebalan tubuh, sehingga tidak mampu melindungi diri. Berbagai infeksi yang biasanya tidak berbahaya sehingga menjadi ancaman maut bagi kehidupan. HIV ditularkan melalui: (1) melalui hubungan seks tanpa perlindungan dengan orang yang sudah terinfeksi, (2) melalui darah yang sudah terinfeksi, (3) melalui jarum suntik yang tidak suci hama dan dipakai bergantian, terutama di kalangan pecandu narkotik, dan (4) melalui ibu hamil pada bayi yang dikandungnya.

Orang yang terinfeksi HIV tidak bias diketahui dengan melihat penampilan saja. Orang yang sudah terinfeksi bias nampak sangat sehat, sementara dia terus menularkan virus yang diidapnya pada orang lain. Virus HIV baru menampakkan gejala setelah 10 tahun. Orang yang terinfeksi HIV melalui beberapa tahap. Mula-mula mungkin merasa demam atau gejala seperti masuk angina, kemudian masuk ke tahap inkubasi dan, setelah sekian lama HIV mulai merusak sel-T sehingga tubuh mulai menunjukkan gejala kegagalan system pertahanan.

Untuk menghindari AIDS dalam hal seks adalah dengan cara ABC: (1) Anda jauhi seks, berarti tidak melakukan hubungan seks sama sekali, (2) Bersikap saling setia dengan pasangan, (3) Cegah dengan selalu menggunakan kondom secara benar. Kondom berfungsi sebagai penghambat atau dinding yang mencegah terjadinya pertukaran cairan tubuh. Kalau digunakan secara benar, HIV tidak dapat menembus diding kondom.

Gejala infeksi HIV adalah: (1) pembengkakan kelenjar leher dan/atau ketiak, (2) sering demam atau berkeringat malam hari, (3) rasa lelah yang tidak jelas penyebabnya, (4) lapisan putih pada lidah, (5) atau kehilangan berat badan secara drastis. AIDS tidak akan ditularkan melalui bersin, ciuman pipi, kolam renang, tukang cukur, jamban umum, berbagi makanan dan menggunakan alat makan bersama, bekerja atau bergaul dengan orang yang positif HIV.
"

Seks Bebas Di Kalangan Remaja

Remaja puteri dikota-kota besar cenderung sudah tidak perawan. Hal ini berdasarkan hasil survei dari BKKBN yang menyatakan bahwa separuh dari perempuan lajang dikota besar khususnya Jabotabek kehilangan keperawanan dan melakukan hubungan seks pranikah. Tak sedikit pula yang hamil diluar nikah. Rentang usia yang melakukan seks pranikah berkisar antara 13 - 18 tahun.

Diwilayah lain di Indonesia seperti Surabaya perempuan lajang yang sudah kehilangan keperawanan mencapai 54 %, Bandung 47 %, dan Medan 52 %. Data ini dikumpulkan BKKBN sepanjang kurun waktu tahun 2010. Senada dengan pernyataan Kepala BKKBN, Bpk. Sugiri Syarif "berdasarkan data yang kami himpun dari 100 orang remaja, 51 diantaranya sudah tidak lagi perawan". Seks bebas dikalangan remaja merupakan ancaman serius yang dapat menghancurkan masa depan bangsa, maka dari itu harus segera ditemukan solusinya.

Kesadaran dari para remaja untuk tidak mendekat maupun melakukan seks bebas adalah tindakan yang sangat mungkin dilakukan untuk dapat menghindari seks bebas dikalangan remaja. Konseling bagi remaja mengenai pendidikan seks adalah yang paling mungkin dilakukan, terutama kepada para pelajar disekolah-sekolah. Pendidikan seks diberikan agar siswa mengenali dan meminimalkan seks bebas.

Selama ini pendidikan seks dianggap tabu, karena asumsi yang beredar dikalangan publik adalah bahwa pendidikan seks sama dengan sosialisasi aktivitas seks dan identitas seks. Padahal sesungguhnya apabila para remaja mengetahui apa esensi sebenarnya dari pendididkan seks itu yang mancakup tentang pengetahuan genital, pemahaman mengenai organ-organ tubuh mana yang boleh dilihat atau tidak, bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi, dan sejauh mana batasan-batasan bergaul dengan teman lawan jenis,serta resiko apa yang mungkin dapat terjadi apabila melakukan seks bebas, maka para remaja tidak akan berani untuk mencoba melakukan seks bebas.

BKKBN melalui kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja yang ada di sekolah-sekolah dan universitas-universitas berharap dapat memberikan pendidikan dan juga informasi seputar seksualitas dan indikator lain yang terkait seperti NAPZA dan HIV/AIDS kepada para remaja. Karena 3 hal ini yang paling rentan dihadapi oleh para remaja atau lebih dikenal dengan istilah TRIAD KRR (NAPZA, Seksualitas, dan HIV/AIDS).

Gejala HIV dan AIDS


- Infeksi awal
Ketika infeksi HIV pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Radang tenggorokan
  • Pembengkakan kelenjar limpa
  • Ruam

  • - Infeksi selanjutnya
    Anda mungkin tidak akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih. Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun, anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti:
  • Pembengkakan node limpa – sering merupakan tanda awal infeksi HIV
  • Diare
  • Hilang berat badan
  • Demam
  • Batuk atau napas yang pendek

  • - Infeksi tahap akhir
    Dalam waktu sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius dapat terjadi dan diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi:
  • Infeksi yang terjadi ketika sistem imun lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
  • Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah – normalnya adalah antara 800 sampai 1.200

  • Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan gejalanya adalah:
  • Berkeringat di malam hari
  • Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius untuk beberapa minggu
  • Batuk kering dan napas pendek
  • Diare kronis
  • Noda putih pada lidah atau mulut
  • Sakit kepala
  • Pandangan kabur
  • Hilang berat badan

  • Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti:
  • Rasa lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan
  • Berkeringat pada malam hari
  • Menggigil atau demam tinggi untuk beberapa minggu
  • Pembengkakan node limpa lebih dari tiga bulan
  • Diare kronis
  • Sakit kepala yang tidak hilang

  • Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.

    - Gejala HIV pada anak-anak
    Anak-anak dengan HIV positif dapat mengalami:
  • Sulit menambah berat badan
  • Sulit berkembang secara normal
  • Sulit berjalan
  • Penundaan perkembangan mental
  • Dapat mengalami infeksi telinga, pneumonia dan tonsilis
  • Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba



    Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.

    Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di sekolah. Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering digunakan.

    Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan pesan yang jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di sekolah. Untuk anak sekolah harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak.

    Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang dewasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh.

    Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus sigap serta waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik.

    Jauhkan Narkoba Demi Terwujud Cita-cita


    Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa didaerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, ormas,pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu meraja rela.

    Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.

    Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi (termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Namun realita yang terjadi saat ini bertentangan dengan kesepakatan tersebut, sudah ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan Universitas Indonesia).

    Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam. Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.

    Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan anak dari bahaya narkoba masih belum cukup efektif. Walaupun pemerintah dalam UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 dalam pasal 20 sudah menyatakan bahwa Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih lengkap di UU Perlindungan Anak). Namun perlindungan anak dari narkoba masih jauh dari harapan.

    Narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak saja. Karena narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua orang. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan dan memobilisasi semua pihak baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal. Adalah sangat penting untuk bekerja bersama dalam rangka melindungi anak dari bahaya narkoba dan memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan kepada anak-anak tentang bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima.

    Anak-anak membutuhkan informasi, strategi, dan kemampuan untuk mencegah mereka dari bahaya narkoba atau juga mengurangi dampak dari bahaya narkoba dari pemakaian narkoba dari orang lain. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya narkoba adalah dengan melakukan program yang menitikberatkan pada anak usia sekolah (school-going age oriented).

    Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok. Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

    Keluarga adalah kunci utama pencegahan TRIAD KRR

    Triad KRR ”. adalah resiko yang muncul dari  perkembangan tentang seksual dan seksualitas dimana didalamnya termasuk kehamilan yang tidak diinginkan dan pubertas; dari  NAPZA  atau narkoba; dari  Infeksi menular seksual serta HIV/AIDS.
     
    Pengetahuan yang kurang  mengenai pentingnya menghindari resiko triad KRR ini merupakan pangkal dari merebaknya pengguna narkoba, meningkatnya penderita HIV dan AIDS, serta meningkatnya jumlah kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, IMS serta perilaku buruk lainnya ini semua dapat menjadi sumber kejahatan dan kriminalitas di segala lingkungan.
     
    Triad KRR   ini  dapat berdampak kepada siapa saja dengan usia berapapun, tetapi yang paling mengkhawatirkan tentu dampak buruk terhadap generasi muda yang notabene merupakan asset dan penerus bangsa.
     
    Saat ini  Narkoba, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, HIV dan AIDS, sepertinya sudah bukan hal yang menakutkan dan tabu lagi bagi sebagian masyarakat,  mereka banyak yang beranggapan bahwa itu adalah hal yang biasa, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, meskipun program-program untuk mengatasi  dan menanggulangi masalah ini sudah cukup banyak, namun kepedulian masyarakat sepertinya belum signifikan. dan kondisi seperti ini bahkan  sudah menjadi issu nasional, dan menjadi issu global.
     
    Dalam upaya memberikan informasi  dan pengetahuan  tentang resiko Triad KRR  khususnya kepada para remaja, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN)  telah membuat Pusat–pusat  Informasi dan Konseling Remaja (PIK  Remaja) baik itu  berada di lingkungan sekolah,  di lingkungan Perguruan Tinggi atau di Akademi, LSM  kepemudaan dan juga di Organisasi ke agamaan, selain itu kepada keluarga yang memiliki remaja informasi dan penyuluhan juga disampaikan melalui kelompok-kelompok  BKR. Meskipun itu semua belum dapat mencakup seluruh jumlah sasaran yang harus mendapatkan informasi. namun upaya ini tentu sudah sangat  memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan generasi muda.
     
    Dari berbagai program yang telah ada baik itu program dari pemerintah maupun dari komponen masyarakat lainnya, tentu akan bermanfaat  secara signifikan apabila penerimaan masyarakat  tentang pentingnya program tersebut  hanya berbentuk  formal  seremonial  tanpa pemahaman dan penghayatan melalui hati nurani, sebab kunci utama untuk menghindari dampak buruknya Triad  KRR itu sebetulnya  berada di dalam hati nurani setiap anggota masyarakat itu sendiri , yang dapat dibentuk dan dimunculkan melalui wahana sebuah  keluarga.
     
    Ada sebuah pameo yang sesuai dengan kondisi keluarga yang dapat memenuhi harapan tersebut  yaitu bahwa  ” Rumahku adalah Sorgaku”. Meskipun kelihatannya sederhana tapi pameo ini sebetulnya mempunyai makna yang dalam  yaitu bahwa  rumah dan keluarga itu merupakan wahana yang utama untuk mendapatkan  kedamaian, ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan  dan lain sebagainya yang membuat penghuni rumah tersebut selalu merasa rumah adalah tempat  yang terbaik untuknya,  sehingga akan selalu muncul kerinduan untuk selalu kembali ke lingkungan keluarga, dan kondisi inilah  biasanya yang akan mejadi senjata ampuh untuk melawan segala pengaruh buruk yang datang pada setiap anggota keluarga, khususnya dampak buruk yang berasal dari triad KRR.
     
    Untuk menciptakan kondisi tersebut tentu bukan hal yang mudah, apabila anggota keluarga yang ada didalamnya tidak mempunyai komitmen bersama untuk mewujudkannya.
     
    Komitmen ini tentu akan tercipta  bila keluarga tersebut selalu  mempunyai cara pandang, pola pikir yang sama dan seimbang dalam menentukan tehnik, strategi dan langkah yang tepat  dalam mengelola satu organisasi kecil yaitu keluarga, dan prasyarat  utamanya  adalah dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman  yang sama tentang dapak buruk triad KRR pada kehidupan manusia.
     

    Dalam mewujudkan komitmen tersebut orang tua tentu mempunyai peran  yang lebih dari pada keluarga lainnya, untuk itu ada tips yang mungkin dapat digunakan :
    1.    Orang tua harus membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk menjadi panutan  dan peneladanan bagi anak-anak dan keluargnya.
    2.    Orang tua harus memiliki pengetahuan yang luas tentang hal-hal yang berdampak buruk terhadap keluarganya.
    3.    Orang tua harus mempunyai kekuatan agar dapat menjadi pengayom untuk melindungi keluarganya
    4.    Orang tua harus berfikir rasional dengan kondisi yang pasti dihadapi oleh anggota keluarga
    5.    Orang tua harus mengenal dan memahami perubahan yang terjadi pada anak dan anggota keluargnya.
    6.    Orang tua harus peka terhadap hal-hal  yang muncul   di lingungan keluarga  dan mempunyai ketrampilan untuk segera menstabilkan kembali kondisi keluarganya
    7.    Orang tua harus mempunyai prinsip dan tujuan yang  jelas dalam membawa biduk rumahtangga dan keluarganya.
    8.    Orang Tua sebaiknya mampu membekali berbagai pengetahuan dan pemahaman kepada anaknya ketika mereka melalui masa transisinya.
     
    Tips yang dipaparkan  ini hanya sebagian kecil  dari tip-tips yang dapat dilakukan dalam untuk mencapai Rumahku adalah Sorgaku khususnya dalam  rangka menghindari dampak buruknya Triad KRR.,  namun demikian pada  intinya ” kunci utama ” untuk mencapai kondisi yang  diharapkan tentu  melalui wahana keluarga
     

    Blogger templates

    Blogroll

    Blogger news